Showing posts with label budidaya tanaman. Show all posts
Showing posts with label budidaya tanaman. Show all posts

Wednesday, August 10, 2016

Cara Mudah Budidaya Bawang Merah

Bawang merah (Allium ascalonicum) merupakan tanaman hortikultura musiman yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Namun pada saat-saat tertentu sering mengalami banjir produksi sehingga harganya anjlok. Diperparah lagi dengan kebijakan impor yang diterapkan pemerintah yang seringkali memperparah kejatuhan harga bawang merah di pasaran.
Untuk menghindari fluktuasi harga yang sangat merugikan petani, perlu upaya untuk melakukan budidaya bawang merah diluar musim. Seiring dengan pembatasan kegiatan budidaya di musim-musim puncak.
Budidaya bawang merah memerlukan penyinaran matahari lebih dari 12 jam sehari. Tanaman ini cocok dibudidayakan di dataran rendah dengan ketinggian 0 hingga 900 meter dari permukaan laut. Suhu optimum untuk perkembangan tanaman bawang merah berkisar 25-32 derajat celcius. Sedangkan keasaman tanah yang dikehendaki sekitar pH 5,6-7.
Kali ini alamtani mencoba menguraikan langkah-langkah teknis yang perlu disiapkan untuk melakukan usaha budidaya bawang merah. Cara menanam bawang merah ini disarikan dari pengalaman para petani bawang di Brebes, Jawa Tengah. Berebes merupakan salah satu sentra budidaya bawang merah terbesar di Indonesia.

Benih bawang merah

Varietas benih untuk budidaya bawang merah cukup banyak. Ada benih lokal hingga benih hibrida impor. Bentuk benihnya ada yang dari biji, ada juga berupa umbi. Kebanyakan budidaya bawang merah di sentra-sentra produksi menggunakan umbi sebagai benih.
Benih bawang merah yang baik berasal dari umbi yang dipanen tua, lebih dari 80 hari untuk dataran rendah dan 100 hari dataran tinggi. Benih bawang merah yang baik setidaknya telah disimpan 2-3 bulan. Ukuran benih sekitar 1,5-2 cm dengan bentuk yang bagus, tidak cacat, berwarna merah tua mengkilap.
Kebutuhan benih untuk budidaya bawang werah tergantung dengan varietas, ukuran benih dan jarak tanam. Untuk jarak tanam 20×20 dengan bobot umbi 5 gram dibutuhkan sekitar 1,4 ton benih per hektar. Untuk bobot yang sama dengan jarak tanam 15×15 dibutuhkan 2,4 ton per hektar. Bila bobot umbi lebih kecil, kebutuhan umbi per hektarnya lebih sedikit lagi.

Pengolahan tanah dan penanaman

Tanah dibuat bedengan dengan lebar 1-1,2 meter, tinggi 20-30 cm dan panjang sesusai dengan kondisi kebun. Jarak antar bedengan 50 cm, sekaligus dijadikan parit sedalam 50 cm. Cangkul bedengan sedalam 20 cm, gemburkan tanahnya. Bentuk permukaan atau bagian atas bedengan rata, tidak melengkung.
Tambahkan kapur atau dolomit sebanyak 1-1,5 ton per hektar apabila keasaman tanah kurang dari pH 5,6. Penambahan kapur setidaknya diberikan 2 minggu sebelum tanam.
Gunakan 15-20 pupuk kompos atau pupuk kandang sebagai pupuk dasar. Tebarkan pupuk di atas bedengan dan aduk dengan tanah hingga merata. Bisa juga ditambahkan urea, ZA, SP-36 dan KCL sebanyak 47 kg, 100 kg, 311 kg dan 56 kg setiap hektarnya. Campur pupuk buatan tersebut sebelum diaplikasikan. Biarkan selama satu minggu sebelum bedengan ditanami.
Siapkan benih atau umbi bawang merah yang siap tanam. Apabila umur umbi masih kurang dari 2 bulan, lakukan pemogesan terlebih dahulu. Pemogesan adalah pemotongan bagian ujung umbi, sekitar 0,5 cm. Fungsinya untuk memecahkan masa dorman dan mempercepat tumbuhnya tananaman.
Jarak tanam untuk budidaya bawang merah pada saat musim kemarau dipadatkan hingga 15×15 cm. Sedangkan pada musim hujan setidaknya dibuat hingga 20×20 cm. Benih bawang merah ditanam dengan cara membenamkan seluruh bagian umbi kedalam tanah.

Perawatan budidaya bawang merah

Penyiraman pada budidaya bawang merah hendaknya dilakukan sehari dua kali setiap pagi dan sore. Setidaknya hingga tanaman berumur 10 hari. Setelah itu, frekuensi penyiraman bisa dikurangi hingga satu hari sekali.
Pemupukan susulan diberikan setelah tanaman bawang merah berumur 2 minggu. Jenis pupuk terdiri dari campuran urea, ZA, dan KCl yang diaduk rata. Komposisi masing-masing pupuk sebanyak 93 kg, 200 kg dan 112 kg untuk setiap hektarnya. Pemupukan susulan selanjutnya diberikan pada minggu ke-5 dengan komposisi urea, ZA, KCl sebanyak 47 kg, 100 kg, 56 kg per hektar. Pemupukan diberikan dengan membuat garitan disamping tanaman.
Penyiangan gulma biasanya dilakukan sebanyak dua kali dalam satu musim tanam. Untuk menghemat biaya, lakukan penyiangan bersamaan dengan pemberian pupuk susulan. Namun apabila serangan gulma menghebat, segera lakukan penyiangan tanpa menunggu pemberian pupuk susulan.

Pengendalian hama dan penyakit

Budidaya bawang merah mempunyai banyak jenis hama dan penyakit. Namun yang paling sering menyerang di sentra-sentra produksi adalah hama ulat dan penyakit layu.
Hama ulat (Spodoptera sp.) menyerang daun, gejalanya terlihat bercak putih pada daun. Bila daun diteropong terlihat seperti gigitan ulat. Hama ini ditanggulangi dengan pemungutan manual, ulat dan telur diambil untuk dimusnahkan. Bisa juga dengan menggunakan feromon sex perangkap, gunakan sebanyak 40 buah per hektar. Bila serangan menghebat, kerusakan lebih dari 5% per rumpun daun, semprot dengan insektisida yang berbahan aktif klorfirifos.
Penyakit layu fusarium, disebabkan oleh cendawan. Gejalanya daun menguning dan seperti terpilin. Bagian pangkal batang membusuk. Penanganannya dengan mencabut tanaman yang mati kemudian membakarnya. Penyemprotan bisa menggunakan fungsidia.

Panen budidaya bawang merah

Ciri-ciri budidaya bawang merah siap panen apabila 60-70% daun sudah mulai rebah. Atau, lakukan pemeriksaan umbi secara acak. Khusus untuk pembenihan umbi, tingkat kerebahan harus mencapai lebih dari 90%.
Budidaya bawang merah biasanya sudah bisa dipanen setelah 55-70 hari sejak tanam. Produktivitas bawang merah dangat bervariasi tergantung dari kondisi lahan, iklim, cuaca dan varietas. Di Indonesia, produktivitas budidaya bawang merah berkisar 3-12 ton per hektar dengan rata-rata nasional 9,47 ton per hektar.
Umbi bawang merah yang telah dipanen harus dikeringkan terlebih dahulu. Penjemuran penjemuran bisa berlangsung hingga 7-14 hari. Pembalikan dilakuan setiap 2-3 hari. Bawang yang telah kering, kadar air 85%, siap untuk disimpan atau dipasarkan.

Tuesday, July 26, 2016

Budidaya Ubi Jalar

Monday, July 25, 2016

Budidaya Tanaman Lengkeng

Buah kelengkeng atau biasa disapa lengkeng dengan nama latin Dimocarpus logan merupakan tumbuhan dari famili sapindaceae yang awal mulanya banyak tumbuh liar di daerah-daerah di pedalaman hutan Sumatera dan Kalimantan. Buah kelengkeng terasa manis apabila dimakan langsung atau dicampur dengan es krim, sudahkah Anda mencobanya?. Ehmmm, Lezat sekali loh. Sesekali Anda juga harus mencoba untuk membuat eskrim yang dicampuri dengan buah kelengkeng ini.

Buah kelengkeng banyak sekali dijual di pasaran tradisional atau supermarket. Harganya cukup terjangkau dan dapat dibeli dalam bentuk paket-paket kecil yang dibungkus menggunakan plastik atau keranjang buah kecil. Agar tidak terus-terusan membeli langsung di pasar, maka sebaiknya Anda juga dapat mencoba membudidaya kelengkeng di halaman rumah, kebun, atau daerah-daerah strategis di lingkungan tempat tinggal Anda. Budidaya kelengkeng agar cepat berbuah lebat dapat dilakukan dengan cara cangkok batang. Hasil cangkok kelengkeng dapat dibeli secara langsung di kios-kios khusus penjualan tanaman perkebunan, atau jika memungkinkan Anda juga dapat mencangkok batang kelengkeng sendiri di kebun kelengkeng Anda. Prosedur atau langkah dalam mencangkok tanaman kelengkeng sama dengan cara mencangkok tanaman mangga, jambu air, jeruk bali, kedondong, dan tanaman lainnya. Sungguh sangat praktis sekali untuk membudidaya tanaman kelengkeng ini.


Kandungan vitamin C pada 5 butir buah kelengkeng kisaran 80-100 mg dan cukup baik untuk memenuhi kebutuhan vitamin C harian tubuh. Vitamin C pada kelengkeng berguna sebagai antioksidan yang baik dalam rangka menangkal radikal bebas yang bersifat patogen di dalam tubuh. Bagi penderita kegemukan (obesitas), konsumsi buah kelengkeng ini terbukti mampu membantu menurunkan berat badan secara berkala.

Sentra dan persebaran pertanian kelengkeng sudah banyak tersebar di penjuru Indonesia, Asia, dan beberapa negara di Afrika, Eropa, serta Amerika. Teknik dasar dalam budidaya tanaman kelengkeng  bagi sebagian petani berbeda-beda, ada yang menggunakan wadah pot besar sebagai media tumbuh tanam kelengkeng, ada pula yang memakai bak penanaman pot tanaman hias sehingga akan nampak seperti dibonsai, atau ditanam langsung di lahan terbuka seperti area perkebunan, ladang, maupun di halaman/pelarangan rumah.

Budidaya kelengkeng di halaman rumah dan daerah perkebunan merupakan pilihan terbaik, karena pembudidayaan kelengkeng tidaklah terlalu banyak menggunakan peralatan yang mahal, serta teknik pembudidayaannya praktis, efisien, murah dan dapat menjangkau semua kalangan masyarakat, baik yang tinggal di perkotaan atau di pedesaan. Budidaya buah kelengkeng agar cepat berbuah lebat apabila ditekuni secara baik maka akan menghasilkan buah yang lebat dan kecepatan pembuahan meningkat apabila pola penanaman serta perawatan tanaman dilakukan secara baik dan benar.

Tanaman kelengkeng telah banyak dikembangbiakan baik secara generatif (biji) atau melalui cara vegetatif yaitu melalui usaha pencangkokan pada bagian organ batang tanaman, teknik menempel, stek batang, okulasi kelengkeng, atau teknik menyambung. Teknik yang digunakan ini tentu mempunyai sisi kelebihan masing-masing. Anda sendiri dapat menentukan kira-kira cara mana yang lebih efektif dan membuat hobi menanam Anda tidak jenuh supaya pengetahuan dan pengalaman dalam kegiatan budidaya tanaman semakin unik.

Banyak juga para petani dan pekebun lebih memilih menanam kelengkeng dengan cara cangkok batang dengan alasan tanaman akan lebih cepat berbuah lebat dan menguntungkan. Selain itu, proses penanaman kelengkeng dengan cara cangkok batang akan sangat bagus apabila langsung diterapkan di area kebun atau halaman rumah.

Karakteristik Umum Tanaman Kelengkeng


Tanaman kelengkeng merupakan tanaman pohon berkayu, batang tanaman tumbuh ke arah atas dan kadang-kadang pada batangnya turun dan merunduk menempel pada lantai tanah. Akarnya tunjang ke arah dalam tanah, perawakan daun berwarna hijau tua, daun berbentuk bulat lonjong memanjang atau bulat telur dengan bagian ujungnya lancip, pertulangan daunnya tidak sejajar, bunga berada dalam 1  tangkai dengan buahnya bertandan. Buah kelengkeng apabila masih muda berwarna cokelat serta  jika sudah tua dan siap panen maka buahnya berwarna cokelat tua. Buah kelengkeng berbentuk bulat penuh dan daging buahnya terasa manis sekali.

Syarat Tumbuh Tanaman Kelengkeng

Tanaman kelengkeng tumbuh secara baik pada wilayah dataran rendah atau dataran tinggi dengan ketinggian lahan yang dianjurkan yakni 400 - 1.200 mdpl. Tanaman kelengkeng ini sangat cocok sekali apabila ditanam pada tanah jenis grumosol, laktosol, andosol dan tanah lempung berpasir. Suhu lingkungan 27 - 32 derajat celcius. Kelembaban udara yang baik dengan rentang 50-70%, dengan curah hujan 1.100 - 1.500 mm/tahun. Cahaya matahari langsung di lahan terbuka penting diberikan pada tanaman ini agar mengakibatkan pertumbuhan tanaman semakin cepat,juga merangsang dalam proses pembentukan bunga, dan menghasilkan buah yang cukup lebat. Selain itu, komponen cahaya matahari sangat baik dalam menunjang pertumbuhan tunas akar dan batang. pH tanah yang ideal bagi tanaman kelengkeng yakni 5,0 - 6,6.

Tanaman kelengkeng banyak ditanam oleh masyarakat di berbagai belahan dunia, termasuk di wilayah tropis seperti halnya Indonesia. Sentra dan wilayah pembudidayaan tanaman kelengkeng dilakukan di berbagai daerah misalnya daerah Puncak, Bogor Jawa Barat. Di provinsi Lampung budidaya kelengkeng hasil cangkok batang ternyata ditanam pada lahan terbuka dan dilakukan di daerah Liwa (Lampung Barat), Gisting (Tanggamus), Kalianda (Lampung Selatan). Daerah lain seperti Palembang, Bengkulu, Riau, Sumatera Utara, Sulawesi, Nusa Tenggara, dan Papua merupakan beberapa wilayah yang seringkali membudidaya kelengkeng dalam jumlah yang banyak.

Cara Budidaya Kelengkeng dengan Cangkok Batang

Membudidayakan tanaman kelengkeng dengan cara cangkok batang adalah cara terbaik supaya mendapatkan buah kelengkeng cepat berbuah lebat dan menguntungkan bagi petani. Bukan tanpa alasan para petani memilih cara ini, sebab dengan cara cangkok batang, maka akan dijamin tanaman kelengkeng akan cepat berbuah, memiliki buah yang sangat banyak dan mampu dipanen secara terus-menerus sepanjang musim. Agar produksi panen buah kelengkeng melimpah ruah, langkah penanaman dan perawatan tanaman menjadi kunci utama untuk meraih keberhasilan dalam menanam kelengkeng di kebun maupun di halaman dan pekarangan rumah. Ada beberapa kiat dalam budidaya kelengkeng dengan cara cangkok agar berbuah lebat dan menguntungkan, diantaranya yaitu: (1). Pemilihan bibit cangkok batang kelengkeng unggulan, (2). Pengolahan lahan tanam kelengkeng yang benar, (3). Cara Penanaman batang cangkok kelengkeng secara terencana, (4). Perawatan dasar tanaman kelengkeng, (5). Kegiatan panen serta pemasaran hasil panen di pasaran.

1. Pemilihan Bibit Cangkok Batang Kelengkeng Unggulan
Bibit cangkok batang tanaman kelengkeng unggul dapat diperoleh melalui proses mencangkok di kebun kelengkeng sendiri atau jika tidak memungkinkan dapat langsung membeli bibit cangkokan kepada penjual bibit di kios khusus tanaman, atau melalui agen petani kelengkeng profesional yang telah terbukti sukses di daerahnya. Bibit cangkokan kelengkeng diambil dari batang indukan produktif dan berdasarkan riwayat hidupnya telah menghasilkan buah sangat banyak di sepanjang musimnya. Pastikan juga bahwa batang tanaman kelengkeng yang dicangkok harus berasal dari tanaman induk setidaknya berumur 1 - 1,5 tahun. Bibit cangkok tanaman kelengkeng sebaiknya tidak mengalami cacat fisik pada bagian organ tanamannya, mengalami luka memar, atau adanya aktivitas mikroorganisme yang tampak . Daun pada tanaman kelengkeng hasil cangkokan harus banyak (minimal terdiri dari 20 - 50 lebih daun dengan berwarna hijau tua/muda), batang harus kuat dan tidak muncul ciri penyakit yang menyerang pada organ tanaman yang dicangkok tersebut. Apabila syarat tersebut telah terpenuhi mari ikuti prosedur berikutnya.

2. Pengolahan Lahan dan Cara Menanam Kelengkeng Hasil Cangkok Batang

Pengolahan lahan tanam kelengkeng meliputi pencangkulan secara manual pada areal lahan baik di perkebunan atau pekarangan rumah. Langkah pertama adalah membuat lubang tanam berbentuk persegi (bujur sangkar) pada salah satu lahan yang dipilih dengan ukuran panjang x lebar x tinggi berturut-turut yakni 100 x 100 x 40 cm, dengan jarak tanam 2-3 meter (disesuaikan dengan kebutuhan lahan yang ada). Selanjutnya bagian dalam lubang tanam yang telah digali tanahnya ditambahkan pupuk kandang dari kotoran hewan ternak sebanyak 2 kg untuk masing-masing lubang tanam, lalu bibit cangkokan dilepas dari wadah/pot polybag, segera tanamlah langsung hasil cangkokan kelengkeng tersebut pada lubang tanam yang telah disediakan.

Setelah bibit cangkok kelengkeng ditanam, kemudian padatkan tanah di sekitar bibit, lalu siram tanaman kelengkeng dengan air bersih tiap pagi dan sore hari. Jangan lupa beri tanaman cangkokan tersebut penyangga dari tanaman hidup seperti pohon asam atau trembesi (apabila tidak ada dapat menggunakan tiang penyangga dari bambu yang dipotong-potong) dan ditegakkan di sekitar tanaman, selanjutnya batang tanaman cangkokan diikat pada tiang penyangga supaya tanaman tidak mudah roboh. Pastikan pula penanaman dilakukan di area yang memiliki ketercukupan cahaya  matahari sepanjang hari supaya proses fotosintesis tanaman kelengkeng berjalan optimal serta mampu merangsang pertumbuhan dan perkembangan tanaman ke arah yang jauh lebih baik.

3. Perawatan Dasar Tanaman Kelengkeng Hasil Cangkok Batang
Perawatan tanaman kelengkeng meliputi beberapa kiat agar apa yang diharapkan petani terkait dari hasil panen terwujud. Perawatan tanaman kelengkeng meliputi beberapa tahap diantaranya sebagai berikut:
  • Penyiangan tanaman kelengkeng, bertujuan untuk memastikan bahwa tanaman kelengkeng  terbebas dari adanya aktivitas pertumbuhan rumput liar yang terlalu banyak (gulma parasit). Apabila ada gulma di area sekitar tanaman kelengkeng, maka sebaiknya segera dikoret atau dicabut sampai pada akarnya supaya tidak tumbuh lagi. Jika gulma yang tumbuh di sekitar tanaman sangat banyak tentu akan terjadi perebutan nutrisi (unsur hara) di dalam tanah, akibatnya pertumbuhan kelengkeng hasil cangkokan semakin terhambat, dan ujung-ujungnya perlahan organ tanaman misalnya batang akan kurus, daun akan mengalami nekrosis (ditandai dengan daun berwarna kuning pucat, daun mudah rontok, kemudian lama-kelamaan akan mati);
  • Penggemburan lahan tanam/pembubunan, yakni dengan cara mencangkul perlahan dan tidak terlalu dalam di areal tanah penanaman supaya tanah yang sudah padat kembali gembur agar ketika terjadi hujan atau waktu disiram, air akan mudah meresap ke dalam akar tanaman, sehingga mempengaruhi proses pembentukan bunga, daun, batang, serta buah kelengkeng; Pembubunan lahan tanam dilakukan pada usia 2,5 - 4 bulan, terhitung sejak usia tanam awal;
  • Pemangkasan/perempelan: Perampelan bertujuan untuk membentuk kanopi serta meningkatkan produktivitas buah kelengkeng agar cepat berbuah lebat dan menguntungkan. Perampelan dilakukan saat usia tanaman menginjak umur sekitar 3-4 bulan dengan cara mengambil 4-6 tunas saja, selebihnya dapat dipangkas. 4-6 tunas yang sudah dipilih kemudian dipelihara sampai umur tanaman mencapai usia 1 tahun. Apabila usia 1 tahun terdapat tunas-tunas baru di area ketiak batangnya, maka dapat dipotong dengan meninggalkan 3-4 tunas saja. Pemangkasan selanjutnya dilakukan tiap 1 tahun sekali dan caranya sama seperti pemangkasan kedua;
  • Peningkatan kualitas dan kuantitas buah kelengkeng: dapat ditempuh dengan pemberian hormon Giberelin untuk merangsang proses pembungaan dan pembentukan buah yang komplit. Penggunaan hormon giberelin dengan dosis cukup justru akan membantu peningkatan produksi buah menjadi 2 kali lebih banyak daripada tanpa penambahan hormon tersebut. Penggunaan hormon Giberelin harus mengikuti dosis yang tepat dan disesuaikan dengan umur tanaman kelengkeng, yakni idealnya diberikan penyemprotan hormon giberelin pada saat tanaman sudah menandakan ciri-ciri terjadinya pembungaan pada tiap tanaman;
  • Pemupukan tanaman kelengkeng: pohon kelengkeng yang telah dewasa akan menunjukkan ciri  pertumbuhan primernya seperti daun menjadi banyak, adanya proses pembungaan dan munculnya buah bertandan-tandan, batang nampak kokoh dan terkadang merunduk ke lantai tanah. Pemupukan penting dilakukan tiap 2 bulan sekali selama 1 tahun pertama dan tahun-tahun berikutnya supaya tanaman tetap terpelihara secara baik, dan pada akhirnya proses pembuahan kelengkeng hasil cangkok batang semakin dinikmati dalam jangka waktu cukup lama. Pemupukan dilakukan dengan menambahkan pupuk organik (pupuk kandang/kompos) ke bagian tanaman dengan cara disebarkan di area pusat tumbuh tanaman (1 tanaman = 2,5 kg pupuk kandang). Sementara itu, lakukan juga pemupukan anorganik susulan secara berseling dengan pupuk kandang tiap 2 bulan sekali, yakni dengan menggunakan pupuk Urea, KCl, TSP. Cara pemberian pupuk anorganik yaitu dengan terlebih dahulu membuat lubang larikan secara melingkar di area pusat tanaman, lalu masukan pupuk anorganik di dalam lubang larikan, kemudian larikan ditutup dengan tanah hasil galian larikan. Utamakan keselamatan tanaman saat pemberian pupuk anorganik yakni jangan terlalu dekat dengan akar tanaman (minimal jarak 30-35 cm) agar akar tanaman tidak mudah rusak/mati. Pemberian kedua jenis pupuk ini jika dilaksanakan secara teratur dan terjadwal akan semakin memperbagus produktivitas hasil pertanian, termasuk membuat tanaman kelengkeng cepat berbuah lebat dan menguntungkan bagi petani. 

  • 4. Kegiatan Panen dan Pemasaran Buah Kelengkeng
    Sebaiknya kegiatan panen buah kelengkeng dilakukan secara berjenjang (bertahap sesuai dengan tingkat kematangan buahnya), sebab dalam satu pohon buah tidak masak secara bersamaan. Pemanenan buah kelengkeng yang telah matang dilakukan secara bertahap dan disesuaikan dengan kebutuhan. Pada pemanenan awal, biasanya buah hasil cangkokan kelengkeng tidak terlalu banyak, kisaran 20-50 buah pertanaman, namun menginjak panen pada musim berikutnya akan terus bertambah bahkan menjadi dua kali lipatnya, dan seterusnya. Panen awal buah kelengkeng umumnya terjadi pada saat tanaman berumur 1 tahun dengan buah yang lumayan banyak.
    Cara pemanenan buah kelengkeng yakni dengan memetik buah kelengkeng yang sudah tua atau buah yang sudah matang di pohonnya langsung, lalu buah dimasukan ke dalam keranjang buah yang terbuat dari anyaman bilah bambu. Buah yang telah terkumpul dibersihkan menggunakan air bersih, lalu dikeringkan. Setelah itu, buah disortir (dipilih-pilih) berdasarkan kriteria buah yang baik dan buruk. Hanya buah yang baik dan berukuran ideal yang akan diperjualbelikan, sementara itu untuk buah yang buruk, rusak dari tandan buahnya dan tidak sesuai dengan kriteria penjualan dapat dimanfaatkan sendiri untuk dikonsumsi sendiri.

    Di supermarket, buah kelengkeng banyak diperjualbelikan dengan harga yang variatif yakni dengan harga kiloan atau perpaket buah. Harga kelengkeng perkilogramnya bervariasi untuk setiap wilayah di negara Indonesia. Misalnya, di Provinsi Lampung, terutama di Kota Bandar Lampung, harga buah kelengkeng kualitas unggul besar perkilogramnya dijatuhkan kisaran harga Rp. 20.000,00,- hingga Rp.30.000,00,-. Tentu apabila budidaya tanaman kelengkeng ini dilakukan secara ulet maka tidak menutup kemungkinan akan menghasilkan produksi panen kelengkeng yang potensial serta memperoleh hasil panen memadai dan menguntungkan bagi petani.

Monday, June 20, 2016

Budidaya Jeruk Lemon


Budidaya Jeruk Lemon

Jeruk lemon (jeruk sitrun) adalah tanaman yang masih satu famili dengan jenis jeruk-jeruk yang lain tetapi memiliki keunikan tersendiri. Jeruk lemon mempunyai kulit berwarna kuning dengan bentuk buah yang lonjong dan rasa buahnya asam manis. Buah ini biasanya digunakan sebagai garnish atau bahan minuman yang menyegarkan. Jika dilihat dari kandungannya, buah ini kaya akan vitamin C sehingga bisa meningkatkan kekebalan tubuh. Sekarang ini produk olahan kemasan dengan rasa lemon sudah tidak terhitung lagi, mulai dari sirup, selai, jus, minuman ringan, sampai makanan ringan juga ada. Hal ini menunjukkan bahwa lemon punya penggemar tersendiri dan pangsa pasarnya cukup terbuka lebar. Tidak ada salahnya bukan Anda mencoba dan mengaplikasikan panduan menanam dan budidaya lemon dibawah ini:

Persiapan Lahan

Siapkan lahan tanam dengan membajak atau mencangkul tanah yang lebih dulu diberi pupuk kandang/kompos sebagai pupuk dasar. Jika tanah keadaannya terlalu asam tambahkan dolomit/kapur pertanian. Selanjutnya buatlah lubang tanam sedalam 30 cm dan beri pupuk urea dengan dosis 200 kg/hektar. Dosis bisa disesuaikan dengan kondisi lahan tanam, bila sudah cukup subur maka dosisnya dikurangi, dan jika telalu gersang bisa ditambahkan.

Pembibitan Jeruk Lemon

Pembibitan bisa dilakukan dengan metode cangkok, okulasi atau biji. Namun yang lebih baik adalah dengan cangkok atau okulasi. Pilih batang pohon yang berdiameter minimal diatas 5 cm dan bentuknya lurus. Lakukan pencangkokan seperti biasa dan tunggu sampai keluar akar. Selanjunya potong batang dan semaikan selama sebulan di polybag semai sampai benar-benar bisa tumbuh dengan akar. Selanjunya jika sudah siap maka tanam di lahan tanam.

Penanaman

Tanam bibit yang sudah siap pada lahan tanam dengan jarak 70-100 cm antar tanaman. Usahakan penanaman pada lahan yang tidak terhalangi pohon lain agar sinar matahari mengenai tanaman secara langsung. Sediakan lubang yang mengelilingi tanaman sebagai tempat untuk pemupukan. Siram air secara berkala setiap pagi dan sore hari selama 2 minggu berturut-turut. Jaga agar tanaman tidak mati, bila ada yang mati atau tidak tumbuh baik segera ganti dengan yang baru.

Pemeliharaan

Lakukan pemupukan selama 4 kali dalam satu tahun. Berikan pupuk kandang, TSP, ZA dan kompos dengan takaran yang cukup yakni 1:1:1:1. Jangan lupa lakukan pemangkasan pada batang lemon agar pertunasan bisa terjadi dan tanaman bisa cepat berbunga. Setiap ada tumbuhan liar atau gulma harus segera disingkirkan agar nutrisi terserap maksimal. Jauhkan tanaman dari hama dan penyakit, jika tanaman terserang hama dan penyakit maka gunakan pestisida dan obat sesuai dengan dosis dan anjuran yang semestinya.

Pemanenan

Pemanenan lemon bisa dilakukan saat lemon sudah benar-benar matang. Umumnya lemon bisa dipanen mulai umur 30-36 minggu setelah tanam. Pastikan buah matang di pohon, sebab buah jeruk berhenti melakukan pematangan setelah dipetik.

Wednesday, June 8, 2016

Budidaya Sukun yang Menggiurkan

Cara Budidaya Tanaman Sukun yang Baik – Tanaman sukun adalah tanaman hutan dengan tinggi mencapai 20 meter. Tanaman ini memiliki kayu yang lunak dengan kulit kayu yang berserat kasar.Seluruh bagian tanaman memiliki getah encer. Di bagian daun serta batang daunnya sangat lebar, menjari serta berbulu kasar. Batang dari tanaman sukun ini besar, bergetah banyak dan juga agak lunak. Cabangnya pun banyak dan untuk pertumbuhannya cenderung ke atas.
Karena buah sukun pada dasarnya memang tidak memiliki biji, maka dalam teknik pembudidayaan tanaman sukun ini hanya menggunakan penanaman vegetatif. Ada sejumlah cara bercocok tanam guna memperoleh bibit dari pohon tanaman sukun.
Dimana cara yang pertama yaitu menggunakan stek pucuk. Stek pucuk ini akan menanggulangi masalah bibit yang sudah terlalu lama berada dalam polibag. Selanjutnya dapat juga menggunakan okulasi. Jika menggunakan okulasi Anda akan mudah mendapatkan benih yang banyak hanya dalam waktu cukup singkat. Dapat juga Anda coba memakai tunas akar alami serta cangkok.
Pedoman budidaya tanaman sukun
Umumnya tanaman sukun diperbanyak menggunakan cara cangkok atau stek akar. Meskipun untuk tanaman dapat diperbanyak menggunakan cara sambung pucuk atau okulasi di batang bawah dari semai keluwih, namun cara yang satu ini tidak dianjurkan karena memiliki presentasi keberhasilan yang rendah serta relatif lama.
Akar samping dari pohon sukun ini ditarik ke atas, kemudian potong sepanjang 20 hingga 20 cm dan disemaikan sebagai bibit. Di akar yang terlihat pada permukaan tanah seringkali tumbuh tunas. Dari tunas inilah yang nantinya dapat dipotong beserta dengan akar induknya guna dijadikan untuk bibit.
Bibit sukun yang sudah mencapai tinggi sekitar 70 centimeter akan dapat ditanam di kebun. Ukuran lubang tanam untuk tanaman sukun ini adalah 40 x 40 x 30 centimeter. Setiap lubang tanam diberi 10 kilo gram pupuk kandang yang sudah matang. Ada baiknya jika bibit muda Anda lindungi dengan daun kelapa maupun daun lainnya guna mencegah sengatan matahari serta diberi cukup air ketika musim kemarau.
Pemeliharaan tanaman sukun
Pemangkasan cabang tanaman sukun jangan terlalu sering dilakukan. Akan tetapi jika pembentukan percabangan memang belum bagus, maka Anda dapat memangkas batang utamanya agar memiliki tunas lebih banyak.
Gunakan pupuk buatan NPK (15:15:15) yang diberikan tiga bulan sekali sebanyak 25 hingga 1000 gram per pohon setiap tahunnya disesuaikan dengan usia tanaman. Setelah tanaman sudah berbuah, maka pemupukan cukup 1 hingga 2 kali saja per tahun sebelum berbunga dan juga setelah panen raya.
Penyakit dan hama yang menyerang tanaman sukun
Hama yang umumnya menyerang tanaman sukun yaitu penggerek batang atau Xyleberus sp serta lalat buah (Dacus sp). Bagaimana cara mengatasi hama ini? Lubang gerekan yang ada di batang perlu disumbat rapat menggunakan aspal maupun batangnya disiram dengan larutan insektisida sistemik guna mengatasi serangan.
Hama penggerek pada dasarnya dapat mematikan pohon. Maka dari itu, jika ada serangan lebih baik cepat lakukan pemberantasan. Sedangkan untuk penyakit yang umumnya mengancam tanaman ini antara lain adalah mati pucuk (Fusarium sp), busu tangkai buah atau Rhizopus sp serta busuk buah lunak yang dikenal dengan Phytophthora palmivora.
Akan tetapi penyakit ini memang tergolong satu ancaman yang tidak begitu serius. Namun lebih baik jika terserang memang sebaiknya segera untuk dilakukan penanganan agar penyakit tersebut tidak meluas.

Pemilihan pembibitan

Dalam teknik budidaya sukun, karena buah sukun tidak memiliki biji, hanya terdapat cara penanaman vegetatif. Ada beberapa cara bercocok tanam untuk memperoleh bibit dari pohon sukun. Cara yang pertama adalah menggunakan stek pucuk. Stek pucuk dapat menanggulangi masalah bibit yang terlalu lama dalam polibag. Kemudian bisa juga menggunakan okulasi. Dengan menggunakan okulasi, anda akan memperoleh benih yang banyak dalam waktu relatif singkat. Atau anda juga bisa menggunakan tunas akar alami dan atau cangkok. Dari beberapa cara tersebut, cara yang paling mudah adalah menggunakan metode stek. Jika anda baru saja mengawali budidaya, anda bisa mencari bibit dari penjual bibit. Pastikan anda mencari bibit dari indukan yang berkualitas dan unggul agar hasil panen yang anda peroleh juga menghasilkan.
Ciri bibit yang baik
Untuk memudahkan anda memilih bibit dalam cara budidaya sukun, ada ciri-ciri umum dari bibit yang unggul. Yang pertama adalah sudah terdapat daun minimal 4 buah. Semakin banyak daun semakin bagus, namun jumlah ideal adalah minimal 6 atau lebih. Tanaman dengan 4 daun berarti sudah cukup umur untuk dipindah ke lahan. Kemudian warnanya yang aga gelap namun segar. Daun juga mengkilap untuk bibit yang bagus. Jika warnanya pucat, kekuningan, atau keputihan kemungkinan pertumbuhan terganggu. Batangnya kuat, dan lurus serta tumbuh dengan tegak. Pilih dari jenis sukun unggul seperti sukun kuning, sukun bone, atau sukun gundul.

Persiapan Tanam
Untuk cara tanam sukun sebaiknya di awal musim hujan. Karena membutuhkan banyak air, hindari tanaman sukun kekeringan. Kemudian cara menanam dilakukan di sore hari agar mengurangi penguapan. Kemudian siapkan lahan sebelum bibit ditanam dengan dibersihkan dari semak, batuan, dan rumput. Jarak tanam untuk sukun adalah 12 meter atau 15 meter persegi. Pasang patok atau bilah dari bambu agar lebih mudah.
Pembuatan Lubang Tanam
Untuk lubang penanaman, ukuran ideal adalah kubik 75 cm. Lubangnya harus besar karena pertumbuhannya cepat dan besar sehingga agar pertumbuhannya baik. Kemudian pastikan tanah galian dipisah antara tanah bagian atas dan bagian bawah. Tanah bagian atas dicampur dengan pupuk kandang. Pastikan lubang sudah disiapkan 2 minggu sebelumnya agar terkena sinar matahari untuk mematikan bibit penyakit dan hama. Jika tanah memiliki pH tinggi dapat diturunkan dengan kapur.
Langkah-langkah Penanaman
Pertama bersihkan lahan lagi dari rumput, kotoran, dan batu serta tanaman liar. Pastikan lubang yang anda siapkan sudah memenuhi ukuran yaitu jarak tanam 12 sampai 15 meter persegi dan lubang dengan ukuran 75 cm kubik. Tanah bagian atas yang untuk menutupi lubang sudah dicampur dengan 1 blek pupuk kandang. Kemudian siapkan bibit. Buka penutup bibit. Masukkan bibit ke dalam lubang. Timbunlah dengan tanah bagian bawah dulu (tanah biasa) baru dengan tanah bagian atas yang sudah dicampur dengan pupuk kandang. Saat penimbunan berikan pupuk NPK sebanyak 100 gram setiap lubang. Beri sedikit air agar tanah dapat dimampatkan sehingga posisi tanaman akan menjadi lebih kuat dan kokoh. Setelah selesai tanaman tinggal dirawat dengan disiram teratur. Selalu periksa kondisi tanaman, pastikan kondisinya sehat selalu terhindar dari hama dan lakukan perawatandan anda juga harus memelihara kondisinya dengan baik.

Sedikit tips, untuk penanaman awal sukun, anda masih bisa menanami tanaman di sela-sela tanaman sukun dengan tanaman palawija untuk memanfaatkan lahan sisa. Tanaman tersebut selain dapat menambah pemasukan untuk bisnis anda, juga dapat berfungsi sebagai tanaman penutup tanah. Akan tetapi jika sudah tumbuh besar tidak dapat lagi, karena sukun akan tumbuh besar menutupi tanaman dibawahnya.

Thursday, May 19, 2016

Budidaya Jambu air deli hijau

Jambu air deli hijau merupakan salah satu komoditas pertanian buah-buahan yang memiliki prospek yang bagus untuk dikembangkan. Selain memiliki harga yang cukup tinggi, antara 30 ribu hingga 40 ribu per kilogramnya, jambu air deli hijau juga memiliki kelebuhan lain seperti mudah dibudidayakan, rasa manis, bobot buah besar, dan perawatan relatif lebih mudah. Saat ini, jambu air deli hijau banyak dikebangkan di Sumatra Utara khusunya di kota Binjai dan Kabupaten Langkat. Salah satu alternatif pengembangan jambu air deli hijau adalah dengan system bertanam buah dalam pot. Bertanam buah jambu air deli hijau daam pot relatif mudah. Beberapa hal yang perlu diperhatikan adalah
a. Wadah/pot
Pot menjadi salah satu hal utama yang perlu diperhatikan karena menjadi media pertumbuhan tanaman yang terisolasi selama pertumbuhan dan perkemabangan tanaman. Pada prinsipnya, mengacu pada morfologi, ukuran, dan syarat tumbuh tanaman, pot untuk penanaman jambu air deli hijau dalah yang berukuran minimal 60 x 60 cm untuk bentuk persegi, dan untuk yang berbentuk lingkaran, diameter bagian atasnya adalah 60 cm juga. Pot/wadah yang digunakan harus tahan minimal selama 2-3 tahun.
b. Media tanam
Media tanam yang baik untuk jambu air deli dalam pot adalah yang banyak mengandung bahan organik. Tanah atau kompos yang digunakan adalah bahan yang steril yang bebas dari cendawan maupun OPT lain yang dapat mengganggu pertumbuhan tanaman nantinya. Diusahakan, pupuk kandang yang digunakan adalah pupuk kandang yang sudah matang dan berasal dari kotoran ungags karena akan berpengaruh terhadap rasa buah. Perbandingan antara tanah dengan pupuk kandang adalah 2:1.
c. Jarak tanam
Jarak tanam pada budidaya jambu air deli hijau dengan system tabulampot adalah 2 x 3 m atau 3 x 3 m. Jarak tanam tersebut sudah sesuai dengan morfologi tajuk jambu air deli. Jarak tanam yang relatif rapat juga menjadi kelebihan tersendiri pada budidaya jambu air deli hijau karena dalam satu satuan luas dapat ditanamami banyak tanaman jambu air deli hijau.
d. Perawatan
Pemupukan dan pengendalian hama menjadi hal utama yang harus diperhatikan dalam perawatan jambu air deli hijau. Pada umur 1-6 bulan pertama, tanaman membutuhkan banyak unsur N untuk membentuk cabang produktif dan batang yang kokoh. Untuk itu, perlu tambahan pupuk nitrogen yang lebih banyak pada umur 1-6 bulan tersebut. Untuk pengendalian OPT, dilakukan penyemprotan 1 bulan sekali pada musim kemarau dan 1-3 minggu sekali pada saat musim hujan. Beberapa OPT yang sering menyerang jambu air deli hijau adalah ulat, lalat buah, belalang, kutu, dan jamur.
e. Pasca panen
Untuk menghasilkan buah jambu berkualitas super, maka perencanaan sejak awal berbunga harus sudah diprogram, mulai dari penjarangan buah, pemilihan bakal buah, sampai kepada pemrongkosan. Pemanenan yang terencana bertujuan untuk mendapatkan buah yang maksimal dan tingkat kematangan yang diinginkan konsumen sehingga sesuai dengan permintaan pasar. 

Monday, March 28, 2016

Budidaya Belimbing


Untuk melakukan budidaya belimbing manis ada beberapa tahapan yang harus dilakukan supaya mendapatkan hasil yang maksimal, tahapan-tahapan itu aialah: pengolahan tanah, penyiapan bibit, penanaman, pemeliharaan tanaman, pemangkasan cabang, pembungaan dan kerontokan, dan penjarangan buah.

Pengolahan Tanah
Pengolahan tanah merupakan langkah awasl sebelum melakukan tahapan-tahapan yang lainnya, hal ini dimaksudkan supaya lahan lebih gembur, membersihkan gulma, dan memper baiki aerasi tanah supaya lebih subur.
Tanah diolah dengan dicangkul atau dibajak oleh alat tradisional maupun memakai mesin traktor. Setelah pembajakan dibuat lubang tanam berukuran 60 cm x 60 cm x 50 cm. jarak antara lubang 5 m x 6 m, dan buat selokan dari sisa lahan.
Memisahkan tanah galian lapisan atas dengan lapisan bawah setebal 25-30 cm. tiap lubang diisi pupuk kompos yang sudah matang sebanyak 40 kg. campur pupuk dengan tanah lapisan bawah yang ada di pinggir lubang. Biarkan lubang tanam selama 1-3 minggu.
Penyiapan Bibit
Bibit diusahan berasal dari varietas unggul, bibit yang akan di tanam merupakan hasil dari perbanyakan secara vegetative, misalnya dengan okulasi dan sambung pucuk, mulus, tidak cacat dan tidak bercampur dengan varietas lain, dan tentunya harus bebas dari penyakit.
Varietas unggul memiliki ciri seperi, buahnya bermutu tinggi, manis rasanya, produksinya tinggi, mampu beradaptasi di lokasi baru, tahan stress dan tahan terhadap penyakit.
Penanaman
Penanaman dilahan terbuka atau kebun dilakukan apabila bibit belimbing sudah mencapai ketinggian 50-100 cm. apabila bibit yang sudah dipersiapkan menggunakan media yang dibungkus oleh polibag (platik), sebelum ditanam polibag tersebut harus dibuka terlebih dahulu, kemudian bibit dimasukan kedalam lubang tanam yang sudah disediakan sebelumnya.
Posisi bibit harus tegak tepat di tengah lubang. Kemudian, timbun lubang tanam dengan lapisan tanah atas sambil ditekan ke bawah, dan miring kea rah akarnya sampai kuat. Hal ini dilakukan supaya tanaman tidak goyang jika tertiup angin. Dan siram tanaman tersebut supaya tidak stress.
Jika bibit yang ditanam hasil dari sambung pucuk atau okulasi, maka batas sambungan atau mata temple harus terletak 5-10 cm di atas tanah dan jangan sampai tertimbun tanah
Pemeliharaan Tanaman
Pemeliharaan tanaman meliputi penyiraman, pemberantasan gulma, pemupukan, dan pengendalian hama dan penyakit.
Untuk penyiraman dilakukan setiap hari, apalagi pada musim kemarau intensita penyiraman bisa dilakukan pagi dan sore hari. Cara penyiraman dapat dilakukan dengan member lubang jarum pada sisi bawah botol bekas air mineral, kemudian diisi ¾ air, sedangkan atasnya biarkan kosong. Kemudian ditancapkan kedalam tanah, namun tidak terlalu dalam.
Botol pada saat panas akan memuai karena adanya ruangan kosong, dan air akan keluar dari lubang jarum pada sisi bawah. Kemudian cara lain untuk system penyiraman bisa dilakukan dengan cara tetes, yaitu dengan menggunakan selang yang dilubangi sebesar jarum pada posisi samping, kemudian selang dihubungkan dengan menara air (tendon air atau bak air). Air dari menara bisa langsung dialirkan, untuk pengaturannya kita bisa memasang kran pengaturan. 
Untuk pemberantasan gulma bisa kita lakukan dengan alat seperti cangkul , garuk kecil dll. Yang terpenting dalam proses pembuangan benalu atau gulma jangan sampai merusak tanaman utama. Proses ini juga sering disebut penyiangan.
Setelah berumur 3 bulan tanaman harus diberi pupuk N, P dan k. pemupukan dilakukan 3 bulan sekali. Doasis pemberian pupuk untuk tanaman yang sudah berumur satu tahun diberikan urea 100gram, SP-36 100 gram, KCL 100 gram. Kemudian dosis untuk tanaman yang sudah berumur dua tahun ialah urea 150 gram, SP-36 100 gram, KCl 150 gram, dosis untuk tanaman yang sudah berumur tiga ttahun, urea 150 gram, SP-36 300 gram, KCl 200 gram, untuk umur empat tahun, urea 200 gram, SP-36 400 gram, KCl 300 gram, dan umur di atas empat tahun bisa di beri dengan dosis, urea 75 gram, SP-36 150 gram. Dan dosis tersebut untuk masing-masing satu pohon.
Tanaman yang sudah berbuah diberi pupuk dua kali. Pupuk diberikan dengan alur melingkari batang, dengan jarak 10-100 cm dari batang. Sedangkan pemberian pupuk kandang diberikan sebelum bibit belimbing ditanam dengan dosis 40 kg/lubang. Dan setelah tanaman berumur 2 tahun baru diberi lagi pupuk kandang dengan dosis 20 kg/pohon.
Pemangkasan Cabang
Tujuan dari pemangkasan adalah untuk membentuk tanaman supaya bercabang banyak, sosoknya supaya tidak terlalu tinggi menjulang. Kemudian tanaman diremajakan caranya, buang tunas-tunas yang muncul terlalu rapat, ranting yang sakit dan tunas yang lemah.
Untuk tanaman yang sudah tua bisa dipangkas dengan gergaji tajam, dan bekasnya dioles dengan lisol atau karbol, lalu tutup dengan plastic hitam. Kemudian diberi pupuk dengan pupuk kandang tau kompos 10 kg/pohon. Jarak pemangkasan dari tanah 1,5-2 m.
Pembungaan dan Kerontokan
Tanaman yang sduah berbunga sebaiknya disemprot dengan hormone NAA sebanyak 10-25 mg/liter pada bunga, atau dengan larutan herbisida sebanyak 2-10 mg/liter pada bunga dan dilakukan sebelum bunganya mekar.
Kerontokan yang terjadi pada tanaman belimbing bisa diakibatkan beberapa hal, seperti, kekeringan, karena hujan lebat, keracunan pupuk atau pestisida, bisa juga karena pemberian pupuk urea yang berlebihan dan tidak adanya bantuan penyerbukan oleh lalat atau lebah.
Penjarangan Buah
Penjarangan buah bertujuan untuk meningkatkan hasil yang berkualitas seperti, ukuran buah yang sama rata. Caranya, seleksi buah pentil kemudian pilih yang kerdil, bengkok, dan ccacat kemudian buang. Sisakan 2-3 buah, selanjutnya pentil yang tersisa bungkus dengan daun jati, plastic, atau kertas. Agar warnanya seragam dan bersih.
Factor-faktor yang menyebabkan buah menjadi manis :
1. Jenis tanah
2. Pemupukan dan sinar matahari
Tanah yang baik untuk tanaman belimbing adalah tanah lempung dengan curah hujan sedang dan pH tanah 5,5-6. Tanaman belimbing baik ditanam di tanah yang bertipe kering, curah hujan kurang dari 1000 mm/tahun, karena cahaya matahari cukup menyinari, sehingga proses fotosintesis dapat berlangsung baik. Pemupukan pada umur 2 tahun dengan diberi pupuk KNO3 atau KCl sebanyak 500-1000 gram/tahun.

Wednesday, March 23, 2016

Budidaya Buah Naga


Buah naga dikelompokan kedalam keluarga tanaman kaktus. Meskipun dikenal sebagai buah dari Asia, tanaman ini aslinya berasal dari Meksiko, Amerika Tengah dan Amerika Selatan. Pada tahun 1870, bangsa Perancis membawa buah naga dari Guyana ke Vietnam sebagai tanaman hias. Karena rasanya manis, buah naga kemudian dikonsumsi secara meluas di Vietnam dan Cina.
Di Indonesia, buah naga mulai populer sejak tahun 2000. Tidak jelas benar siapa yang pertama kali mengembangkannya. Diperkirakan buah naga yang masuk ke negeri kita berasal dari Thailand dan dibudidayakan oleh para pehobi tanaman secara sporadis.
Saat ini terdapat beberapa spesies tanaman buah naga yang banyak dibudidayakan. Jenis-jenisnya buah populer yaitu:

  • Hylocereus undatus kulitnya merah dengan daging buah putih
  • Hylocereus polyrhisus kulit merah dengan daging buah merah
  • Hylocereus costaricensis kulit merah dengan daging buah merah pekat agak keunguan
  • Hylocereus megelanthus kulitnya berwarna kuning dengan daging buah putih.
Budidaya buah naga sangat cocok dengan kondisi iklim dan alam Indonesia. Tanaman ini tumbuh optimal pada ketinggian 0-350 meter dpl dengan curah hujan sekitar 720 mm per tahun. Suhu udara ideal bagi pertumbuhan buah naga berkisar 26-36 derajat celcius.

Memilih bibit buah naga

Tanaman buah naga bisa diperbanyak dengan cara generatif dan vegetatif. Cara generatif yaitu memperbanyak tanaman dari biji. Benih diambil dengan cara mengeluarkan biji dari buah naga terpilih. Cara ini sedikit sulit dan biasanya dilakukan oleh para penangkar berpengalaman.

Cara vegetatif relatif lebih banyak dipakai karena lebih mudah. Budidaya buah naga dengan cara vegetatif lebih cepat menghasilkan buah. Selain itu, sifat-sifat tanaman induk bisa dipastikan menurun pada anaknya. Berikut ini langkah-langkah penyetekkan buah naga:
  • Penyetekkan dilakukan terhadap batang atau cabang tanaman yang pernah berbuah, setidaknya 3-4 kali. Hal ini berguna agar hasil setek bisa berproduksi lebih cepat dan produktivitasnya sudah ketahuan dari hasil buah terdahulu.
  • Pilih batang yang berdiameter setidaknya 8 cm, keras, tua, berwarna hijau kelabu dan sehat. Semakin besar diameter batang akan semakin baik, karena batang tersebut akan jadi batang utama tanaman.
  • Pemotongan dilakukan terhadap batang yang panjangnya sekitar 80-120 cm. Jangan dipotong semua, sisakan sekitar 20%, bagian yang 80% akan dijadikan calon bibit.
  • Potong-potong batang calon bibit dengan panjang sekitar 20-30 cm. Ujung bagian atas dipotong rata, sedangkan pangkal bawah yang akan ditancapkan ke tanah dipotong meruncing. Gunanya untuk merangsang pertumbuhan akar.
  • Potongan setek harus memiliki setidaknya 4 mata tunas. Panjang setek bisa lebih pendek namun konsekuensinya akan berpengaruh pada kecepatan berbuah.
  • Biarkan batang setek yang telah dipotong-potong tersebut hingga getahnya mengering. Apabila langsung ditanam getah yang masih basah bisa menyebabkan busuk batang. Untuk menghindari resiko serangan jamur batang setek bisa di celupkan pada larutan fungisida.
  • Siapkan bedengan atau polybag untuk menanam setek-setek tersebut. Untuk campuran tanah atau media tanamnya silahkan lihat cara membuat media persemaian.
  • Siram bedengan atau polybag yang telah diisi dengan media tanam. Kemudian tancapkan bagian yang runcing dari setek kedalam media tanam sedalam 5 cm.
  • Berikan naungan atau sungkup untuk melindungi setek tersebut. Lakukan penyiraman sebanyak 2-3 hari sekali.
  • Setelah 3 minggu, tunas pertama mulai tumbuh dan naungan atau sungkup harus dibuka agar bibit mendapatkan cahaya matahari penuh.
  • Pemeliharaan bibit biasanya berlangsung hingga 3 bulan. Pada umur ini tinggi bibit berkisar 50-80 cm.

Persiapan budidaya buah naga

Kebutuhan bibit untuk budidaya buah naga seluas satu hektar sekitar 6000-1000 bibit. Jumlah bibit yang diperlukan tergantung pada metode tanam dan pengaturan jarak tanam. Kali ini alamtani membahas metode budidaya buah naga dengan tiang panjat tunggal. Dengan sistem ini dibutuhkan tiang panjat sebanyak 1600 batang dengan kebutuhan bibit tanaman sebanyak 6400 bibit per hektar.

a. Pembuatan tiang panjat

Dalam budidaya buah naga tiang panjat sangat diperlukan untuk menopang tumbuhnya tanaman. Tiang panjat biasanya dibuat permanen dari beton. Bentuk tiangnya bisap pilar segi empat atau silinder dengan diameter sekitar 10-15 cm.
Tinggi tiang panjat untuk budidaya buah naga biasanya 2-2,5 meter. Tiang tersebut ditanam sedalam 50 cm agar kuat berdiri. Di ujung bagian atas diberikan penopang berupa batang kayu atau besi membentuk ‘+’. Kemudian tambahkan besi berbentuk lingkaran atau bisa juga ban motor bekas. Sehingga bagian ujung atasnya berbentuk seperti stir mobil.
Buatlah tiang panjat tersebut secara berbaris, jarak tiang dalam satu baris 2,5 meter sedangkan jarak antar baris 3 meter. Jarak ini juga sekaligus menjadi jarak tanam. Di antara barisan buat saluran drainase sedalam 25 cm.

b. Pengolahan tanah

Setelah tiang panjat disiapkan, buatlah lubang tanam dengan ukuran 60×60 cm dengan kedalaman 25 cm. Posisi tiang panjat persis terletak ditengah-tengah lubang tanam tersebut.
Campurkan 10 kg pasir dengan tanah galian untuk menambah porositas tanah. Tambahkan pupuk kompos atau pupuk kandang yang telah matang sebanyak 10-20 kg. Tambahkan juga dolomit atau kapur pertanian sebanyak  300 gram, karena buah naga memerlukan banyak kalsium. Aduk bahan-bahan tersebut hingga merata.
Timbun kembali lubang tanam dengan campuran media di atas. Kemudian siram dengan air hingga basah tapi jangan sampai tergenang. Biarkan lubang tanam yang telah ditimbun kembali tersinari matahari dan mengering.
Setelah 2-3 hari, berikan pupuk TSP sebanyak 25 gram. Pemberian pupuk melingkari tiang panjat dengan jarak sekitar 10 cm dari tiang. Biarkan selama kurang lebih 1 hari. Kini lubang tanam siap untuk ditanami.

Penanaman bibit buah naga

Untuk satu tiang panjat dibutuhkan 4 bibit tanaman buah naga. Bibit ditanam mengitari tiang panjat, jarak antar tiang panjat dengan bibit tanaman sekitar 10 cm. Bibit dipindahkan dari bedeng penyemaian atau polybag. Gali tanah sedalam 10-15 cm, atau disesuaikan dengan ukuran bibit. Kemudian bibit diletakkan pada galian tersebut dan ditimbun dengan tanah sambil dipadatkan.
Setelah ke-4 bibit ditanam, ikat batang bibit tanaman tersebut sehingga menempel pada tiang panjat. Lakukan pengikatan setiap tanaman tumbuh menjulur sepanjang 20-30 cm. Pengikatan jangan terlalu kencang untuk memberi ruang gerak pertumbuhan tanaman dan agar tidak melukai batang.

Pemupukan dan perawatan

a. Pemupukan

Pada masa awal pertumbuhan pupuk yang dibutuhkan harus mengandung banyak unsur nitrogen (N). Pada fase berbunga atau berbuah gunakan pupuk yang banyak mengandung fosfor (P) dan kalium (K). Pemakaian urea tidak dianjurkan untuk memupuk buah naga, karena sering mengakibatkan busuk batang.
Pemupukan dengan pupuk kompos atau pupuk kandang dilakukan setiap 3 bulan sekali dengan dosis 5-10 kg per lubang tanam. Pada saat berbunga dan berbuah berikan pupuk tambahan NPK dan ZK masing-masing 50 dan 20 gram per lubang tanam. Pada tahun berikutnya perbanyak dosis pemberian pupuk sesuai dengan ukuran tanaman. Pupuk tambahan berupa pupuk organik cair, pupuk hayati atau hormon perangsang buah bisa diberikan untuk memaksimalkan hasil.

b. Penyiraman

Penyiraman bisa dilakukan dengan mengalirkan air pada parit-parit drainase. Selain itu juga bisa menggunakan gembor atau irigasi tetes. Sistem irigasi tetes lebih hemat air dan tenaga kerja namun perlu investasi yang cukup besar.
Penyiraman dengan parit drainase dilakukan dengan merendam parit selama kurang lebih 2 jam. Bila penyiraman dilakukan dengan gembor, setiap lubang tanam disiram dengan air sebanyak 4-5 liter. Frekuensi penyiraman 3 kali sehari di musim kering, atau sesuai dengan kondisi tanah.
Penyiraman bisa dikurangi atau dihentikan ketika tanaman mulai berbunga dan berbuah. Pengurangan atau penghentian penyiraman bertujuan untuk menekan pertumbuhan tunas baru sehingga pertumbuhan buah bisa maksimal. Penyiraman tetap dilakukan apabila tanah terlihat kering dan tanaman layu karena kurang air.

c. Pemangkasan

Terdapat setidaknya tiga tipe pemangkasan dalam budidaya buah naga, yakni pemangkasan untuk membentuk batang pokok, pemangkasan membentuk cabang produksi dan pemangkasan peremajaan.
Pemangkasan untuk membentuk batang pokok dilakukan pada batang bibit tanaman. Tanaman yang baik memiliki batang pokok yang panjang, besar dan kokoh. Untuk mendapatkan itu pilih tunas yang tumbuh di bagian paling atas batang awal. Tunas yang tumbuh dibawahnya sebaiknya dipotong saja.
Pemangkasan untuk membentuk cabang produksi dilakukan pada tunas yang tumbuh pada batang pokok. Pilihlah 3-4 tunas untuk ditumbuhkan. Nantinya tunas ini akan menjadi batang produksi dan tumbuh menjuntai ke bawah. Tunas yang ditumbuhkan sebaiknya yang ada di bagian atas, sekitar 30 cm dari ujung atas.
Pemangkasan peremajaan dilakukan terhadap cabang produksi yang kurang produktif. Biasanya sudah berbuah 3-4 kali. Hasil pangkasan peremajaan ini bisa dijadikan sumber bibit tanaman.
Hal yang perlu diperhatikan dalam pemangkasan adalah bentuk tanaman. Biasanya tanaman buah naga tumbuh tidak teratur. Upayakan agar tunas-tunas yang dipilih bisa membentuk tanaman dengan baik. Sehingga percabangan tidak terlalu rimbun dan batang yang ada dibawah tajuk bisa terkena sinar matahari dengan maksimal.
Panduan teknis budidaya buah naga

Pemanenan

Tanaman buah naga berumur panjang. Siklus produktifnya bisa mencapai 15-20 tahun. Budidaya buah naga mulai berbuah untuk pertama kali pada bulan ke 10 hingga 12 terhitung setelah tanam. Namun apabila ukuran bibit tanamannya lebih kecil, panen pertamanya bisa mencapai 1,5-2 tahun terhitung setelah tanam. Produktivitas pada panen pertama biasanya tidak langsung optimal.
Satu tanaman biasanya menghasilkan 1 kg buah. Dalam satu tiang panjat terdapat 4 tanaman. Berarti  dengan jumlah tonggal 1600 dalam satu hektar akan dihasilkan sekitar 6-7 ton buah naga sekali musim panen. Usaha budidaya buah naga yang sukses bisa menghasilkan lebih dari 50 ton buah per hektar per tahun.
Ciri-ciri buah yang siap panen adalah kulitnya sudah mulai berwarna merah mengkilap. Jumbai buah berwarna kemerahan, warna hijaunya sudah mulai berkurang. Mahkota buah mengecil dan pangkal buah menguncup atau berkeriput. Ukuran buah membulat dengan berat sekitar 400-600 gram.

Budidaya Jamur Tiram

Jamur tiram dapat tumbuh dan berkembang dalam media yang terbuat dari serbuk kayu yang dikemas dalam kantong plastic. Pertumbuhan jamur tiram sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan sekitarnya. Oleh karena itu, kita harus mengetahui mengenai kondisi yang cocok untuk pertumbuhannya sebelum kita melakukan budidaya jamur tiram.

Pada kehidupan alaminya jamur ini tumbuh di hutan dan biasanya tumbuh berkembang dibawah pohon berdaun lebar atau dibawah tanaman berkayu. Hal ini penting untuk jadi patokan dalam melakukan budidaya jamur tiram dan perlu diingat Jamur Pleurotus ini tidak memerlukan cahaya matahari yang banyak .

Dari hasil penelitian diperoleh bahwa miselium yang disimpan di tempat yang redup, jumlahnya lebih banyak disbanding di temapat yang terang dari cahaya matahari yang penuh.
Miselium adalah jaringan yang didalamnya kumpulan dari hifa jamur. Miselium dapat tumbuh pada sel dinding kayu dengan melakukan penetrasi pada dinding sel kayu dengan cara melubanginya.

Proses penetrasi dinding sel kayu dibantu oleh enzim pemecah selulosa, hemiselulosa, dan lignin yang dihasilkan oleh jamur melalui ujung benang-benang miselium. Enzim tersebut mencerna senyawa kayu sekaligus memanfaatkannya sebagai sumber (zat) makanan.
Syarat Tumbuh JamurTiram

IKLIM

1.    Temperature

Serat (miselium) jamur tiram putih tumbuh dengan baik pada kisaran suhu antara 23-28 °C, artinya kisaran temperature normal untuk pertumbuhannya.  Waluapun begitu, dengan temperature di bawah 23 °C, miselium jamur masih dapat tumbuh meskipun memerlukan waktu yang lebih lambat.

budidaya, jamur, tiram, putih, budidaya jamur tiram, budidaya jamur, cara budidaya jamur, cara budidaya jamur tiramSedangkan untuk pertumbuhan tubuh buahnya yang bentuk seperti cangkang tiram, memerlukan kisaran suhu antara 13-15 °C selama 2 samapai 3 hari.

Bila nilai temperature rendah tersebut tidak didapatkan, maka ada dua kemungkinan yang terjadi, yaitu pertumbuhan tumbuh buah jamur tidak akan terbentuk, yang berarti pemeliharaan tidak berhasil, atau walaupun terbentuk maka waktu yang diperlukan akan lama.
Tetapi walaupun demikian fase kedua jamur tiram putih tersebut masih dapat tumbuh pada rentang suhu 12-37,8 °C.

2.    Kelembapan

Kandungan air di dalam subtract sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan miselium jamur.
Terlalu sedikit air akan mengakibatkan pertumbuhan dan perkembangan akan terganggu, bahkan terhenti sama sekali. Namun, apabila terlalu banyak air, miselium akan membusuk dan mati. Kandungan air didalam subtract tanaman akan didapat dengan baik bila dilakukan penyiraman.
Jamur tumbuh baik dalam keadaan yang lembab, tetapi tidak menghendaki genangan air. Miselium jamur tiram tumbuh optimal pada subtract yang memiliki kandungan air sekitar 60%. Sedangkan untuk merangsang pertumbuhan tunas dan tubuh buah, memerlukan kelembapan udara sekitar 70-85%.

3.    Cahaya

Miselium jamur tiram putih tumbuh optimal pada keadaan gelap. Sebaliknya, tubuh buah jamur tidak dapat tumbuh pada tempat gelap. Cahaya diperlukan untuk merangsang pertumbuhan tubuh buah. Tangkai jamur akan tumbuh kecil dan tudung tumbuh abnormal bila saat pertumbuhan primordial tidak memperoleh penyiraman.

Akan tetapi, cahaya matahari yang menembus secara langsung dapat merusak dan menyebabkan kelayuan, serta ukuran tudung yang relative kecil. Pertumbuhan jamur hanya akan memerlukan cahaya yang bersifat menyebar. Oleh karena itu, diperlukan peneduh pohon di dekat bangunan tempat pemeliharaan jamur.

4.    Udara

Jamur tiram putih adalah tanaman saprofit fakultatif aerobic yang membutuhkan oksigen sebangai senyawa untuk pertumbuhannya. Sirkulasi udara yang lancer akan menjamin pasokan oksigen. Terbatasnya pasokan oksigen udara disekitar tempat tumbuh jamur dapat mengganggu pertumbuhan tubuh buah.

Jamur tiram juga yang tumbuh pada tempat yang kekurangan oksigen memiliki tubuh buah kecil dan abnormal. Tubuh buah jamur yang tumbuh pada tempat yang kekurangan oksisgen akan mudah layu  dan mati. Jamur tiram juga memerlukan sirkulasi udara segar untuk pertumbuhannya. Oleh karena itu, harus diberi ventilasi agar pertukaran udara dapat berjalan secara baik.

Pertumbuhan miselium jamur memerlukan kandungan karbon dioksida yang agak tinggi, yaitu 15%-20%. Tetapi, jamur tiram yang tumbuh pada tempat yang mengandung karbo dioksida yang terlalu tinggi memiliki tubuh buah yang abnormal. Biasanya, tudung jamur tiram tumbuuh relative kecil dibandingkan tangkainya.

5.    Derajat Keasaman (pH)

Miselium jamur tiram putih tumbuh optimal pada pH media yang sedikit asam, yaitu antara 5,0-6,5. Nilai pH medium diperlukan untuk produksi metabolism dari jamur tiram putih, seperti produksi asam organic.

Kondisi asam dapat menyebabkan pertumbuhan miselium jamur tiram terganggu, tumbuh kontaminasi oleh jamur lain, bahkan menimbulkan kematian jamur tiram putih. Kondisi pH yang terlalu tinggi (basa), dapat menyebabkan system metabolism dari jamur tiram putih tidak efektif. Bahkan, menyebabkan kematian. Tubuh buah jamur tiram tumbuh optimal pada pH lingkungdn yang mendekati normal (pH 6,8-7,0).

MEDIA TANAM
Secara tradisional, di Jepang, bibit ditanam di dalam lubang atau garisan di kayu kering. Pengeringan dilakukan dengan tenaga sinar matahari atau listrik. Dalam budidaya modrn, media tumbuh yang digunakan berupa kayu tiruan (log) yang dibuat dalam bentuk silinder. Komposisi media ini berupa sumber kayu (gergaji kayu, ampas tebu), sumber gula (tepung-tepungan), kapur, pupuk P, dan air.

1.    Nutrisi

Pertumbuhan yang optimal dapat dicapai bila lingkungannya sesuai serta tersedia nutrisiyang cukup. Protoplas sel memerlukan  nitrogen, fosfor, dan nutrisi lai. Karbon selain diperlukan untuk pembentukan protoplasma, juga diperlukan sebagai sumber energy. Sehingga karbon lebih banyak dibutuhkan  disbanding dengan nitrogen.
Nitrogen dibutuhkan untuk pembentukan asam nukleat. Sedangkan protein dan kitin diperlukan untuk pembentukan dinding sel jamur.

2.    Kehadiran Mikroorganisme lain

Media tempat tumbuh merupakan sumber energy utama bagi jamur tiram. Kehadiran mikroorganisme lain dapat menyebabkan persaingan dalam mendapatkan nutrisi,  sehingga jamur yang diharapkan tidak dapat tumbuh dengan optimal.
Bahkan, sebagian dari competitor tersebut dapat mengeluarkan senyawa yang bersifat toksin terhadap organism disekitarnya.
Sterilisasi media merupakan cara yang efektif untuk membebaskan media tanam dari kehadiran jasad asing di dalam media tanam yang tidak diharapkan.

KETINGGIAN TEMPAT

Kondisi di atas lebih mudah dicapai didaerah dataran tinggi sekitar 700-800 m dpl. Kemungkinan budidaya jamur didataran rendah tidak mustahil, asalkan iklim ruang penyimpanan dapat diatur dan disesuaikan dengan kebutuhan jamur.

PEMBIBITAN

Bibit yang dapat digunakan adalah F3. Bibit ini dapat dibuat atau diperoleh dari petani jamur yang s udah bisa membuat bibit bibit jamur. Untuk membuat bibit sendiri, diperlukan alat dan bahan yang steril karena proses ini sangat rentan terhadap kontaminasi. Sterilisasi pembuatan bibit biasa menggunakan laminar flow atau transfer box.

ALAT DAN BAHAN

Untuk membudidayakan jamur tiram, diperlukan alat dan bahan sebagai berikut :

•    Kompor minyak tanah
•    Drum berdiameter 80 cm, tinggi 96 cm
•    Rak, dengan luas 3m²
•    pH meter
•    Thermometer
•    Sprayer / penyemprot, dengan pipa paralon 2 inci sebanyak 300 buah
•    Cincin
•    Lampu spirtus, dengan volume 30 liter
•    Baskom plastic
•    Sekpo
•    Serbuk kayu albasia sebanyak 10,5 kg
•    Dedak halus sebanyak 21 kg
•    Tepung jagung sebanyak 0,6 kg
•    TSP murni 1 kg
•    Kapur 3 buah
•    Bibit jamur F3 sebanyak 3 buah
•    Alcohol 95% sebanyak 1 liter
•    Kantung plastic transparan (20x35x0,5)  cm sebanyak 300 buah
•    Kertas roti 10 x 10 sebanyak 300 buah
•    Karet gelang tahan panas 600 buah
•    Air sumur 30 liter

PEMBUATAN JAMUR TIRAM

Adapun proses pembuatan jamur tiram adalah sebagai berikut

1.    Serbuk gergaji dipilih dan dibersihkan. Bagian yang besar dan tajam dibuang karena dapat merusak plastic substrat.

2.    Bahan yang sudah ada dicampur sesuai komposisi takaran dalam jolang / baskom plastic. Aduk sampai merata, jangan sampai ada gumpalan-gumpalan. Adapun bahan yang dicampurkan untuk menghasilkan 100 log adalah sebagai berikut :
•    Serbuk gergaji atau ampas tebu halus 10,5 kg
•    Tepung jagung 0,6 kg
•    Dedak halus 21 kg
•    TSP 1 kg
•    Kapur 3 buah
            Beri air secukupnya, dengan kandungan air 60% dan pHmedia diukur.

3.    Campuran bahan dimasukan ke dalam plastic transparan dengan ukuran 20 x 35 cm dan tebal 0,5. Media harus dipadatkan agar terbentuk log yang baik. Media yang bagus adalah kepadatannya merata. Jangan lupa, ujung plastic bagian bawah ditusuk jari telunjuk supaya masak. Hal ini dilakukan agar bahan yang dimasukkan dan dipadatkan bisa duduk posisinya (tidak miring). Pengisian dilakukan tidak terlalu penuh, tapi disisakan 15 cm untuk memudahkan dalam mengikat.

4.    Tiap log ditimbang beratnya, yaitu sebanyak 1,2 kg.

5.    Sisa ujung plastic ke dalam cincin dilipat keluar, lalu diikat mulut plastic tersebut dengan karet tahan panas.

6.    Tutup mulut log tersebut dengan kapaskemudian tutup lagi dengan kertas, lalu diikat lagi dengan karet.

7.    Dilakukan pengukusan terhadap log media selama 12 jam.

8.    Lamanya pengukusan dihitung setelah air di dalam drum mendidih.

9.    Setelah selesai pengukusan, media di angkat dari drum. Lalu, biarkan selama 8 jam atau sampai dingin pada ruangan yang tertutup. Untuk selanjutnya, dilakukan penanaman bibit.

10.    Setelah media dingin, baru dilakukan penanaman bibit, caranya:
  •     Penanaman bibit dilakuan di ruangan tertutup
  •     Semprot isi ruangan dengan alcohol 95%
  •     Gunakan sarung sarung tangan dan semprot dengan alcohol 95%
  •     Untuk memudahkan penanaman bibit, media yang akan diinokulasi disimpan di depan dekat tangan kiri. Bibit yang akan ditanamkan disimpan di depan dekat tangan kanan. Antara media yang akan ditanami dan bibit, disimpan lampu spirtus.
  •     Buka karet, kertas penutup, serta kapas penutup media.
  •     Masukkan 3 sendok makan bibit untuk satu log media.
  •     Setiap gerakan sendok yang dipakai, dipanaskan dengan api dari lampu spirtus.
  •     Media yang sudah ditanami bibit tersebut ditutup kembali dengan kapas.
  •     Penanaman bibit dikerjakan dengan cepat, tetapi harus teliti.
11.    Media yang sudah ditanami bibit disimpan di atas rak.

12.    Biarkan sampai seluruh media diisi miselium jamur.

13.    Miselium tumbuh memenuhi log media. Setelah seluruh log media ditumbuhi miselium, tutup kapas dan cincin pada bagian atas log tersebut dibuka.

14.    Kelembapan lingkungan dipertahankan dengan menyemprot menggunakan sprayer.

15.    Tubuh buah yang sudah cukup mekar dapat dipanen.

PENYIMPANAN LOG
budidaya jamur tiram putih, budidaya jamur, budidaya jamur tiram, cara budidaya jamur, cara budidaya jamur tiram, jamur tiram

Jika kita akan menyimpan log di dalam bangunan, masa tanam jamur tiram tidak tidak diatur oleh kondisi iklim dan dapat dilakukan setiap saat. Log yang sudah ditanami bibit harus disimpan di tempat yang menunjang pertumbuhan miselium dan tubuh buah.
Bangunan untuk menyimpan log dapat dibuat permanen untuk budidaya jamur tiram skala besar atau di dalam bangunan semi permanen.

Tempat pemeliharaan jamur dibuat dengan ukuran 10 x 12 m² yang di dalamnya terdapat 8 buah petak pemeliharaan berukuran 5,7 x 2,15 m². jarak antara petak 40-60 cm. di dalam setiap petakan dibuat rak-rak yang tersusun ke atas untuk menyimpan 1.300-1.400 log. Rangka bangunan dapat dibuat dari besi, kayu atau bambu.
Log disimpan di atas rak dengan posisi tegak atau miring. Jarak penyimpanan diatur sedemikian rupa sehingga tubuh buah yang tumbuh dari log tidak tumpang tindih dengan tubuh buah yang lain.

PANEN

•    Ciri dan Umur Panen
Jamur tiram Pleurotus adalah  jamur yang rasanya enak dan memiliki aroma yang baik jika dipanen pada waktu umur muuda. Panen dilakukan setelah tubuh buah mencapai ukuran maksimal saat 2-3 hari setelah tumbuh bakal tubuh buah.

•    Cara Panen
Pengambilan jamur harus dilakukan dari pangkal batang karena batang yang tersisa dapat mengalami kebusukan. Potong jamur dengan pisau yang bersih dan tajam, kemudian simpan di wadah plastic dengan tumpukan setinggi 15 cm.

•    Periode Panen
Panen dilakukan setiap hari atau beberapa hari sekali, tergantung dari jarak pembukaan log-log. Dari satu log akan dihasilkan sekitar 0,8-1 kg jamur.

Thursday, March 17, 2016

Budidaya tanaman jahe merah di karung atau polybag

Memilih tanaman budi- daya yang tepat memang sangat berpeng- aruh pada hasil dan keuntungan yang akan didapat, namun jika terlalu larut dalam
memilih komoditi/tanaman yang te- pat, bisa jadi keuntungan yang diharapkan akan terlewati karena musim. Hal ini terjadi akibat harga berkaitan
dengan musim panen, dimana musim yang kurang mendukung menyebabkan harga komoditi tertentu mencapai harga tinggi, dan sebaliknya saat
musim baik dan banyak orang berbudidaya biasanya hargapun juga turun hal ini sesuai dengan hukum ekonomi. Untuk mencegah hal itu terjadi,
maka kita tak perlu menunggu musim atau rame- rame menanam sebagaimana sifat latah sebagian besar petani kita, sehingga tidak lagi terjadi
“panen massal/over produksi”. Dengan demikian tak perlu terjadi fluktuasi harga yang berarti dikarenakan terlalu banyak stok dan menurunnya
jumlah permintaan.
Jahe Merah, tanaman ini tak terlalu sulit dalam berbudidayanya. Cukup di sela-sela tanaman pokok (sengon, kopi, atau tanaman buah-
buahan), ataupun lahan kosong di sekeliling rumah.
Sebelum memulai untuk menanam Jahe sebaiknya kalkulasi secara matang seberapa besar investasi yang di tanam untuk budidaya jahe agar
dapat mengetahui laba rugi setalah masa panen. Berikut adalah langkah-langkah praktis dalam membudidayakan Jahe Merah dalam karung atau
polybag
1. Menyiapkan media tanam
Media tanam yang dipakai adalah karung bekas atau polybag. Jika menggunakan karung, bisa menggunakan
karung bekas beras atau pakan ternak. Semakin besar ukuran karung, media pengisi juga semakin banyak, namun produktivitas Jahe Merah juga
akan semakin tinggi. Jika menggunakan polybag, gunakan polybag dengan ukuran minimal 40 x 50 cm.
Media pengisi karung atau polybag adalah tanah, pasir rambon dan pupuk organik dengan perbandingan 1:1:1 atau 1:1:2
Tanah
Tanah yang baik adalah tanah yang gembur dan subur. Gembur artinya remah dan komposisi
liat, pasir, dan debunya seimbang. Subur berarti banyak kandungan unsur haranya. Jika tanah yang
digunakan sudah subur dan gembur, sebenarnya tidak diperlukan penambahan bahan lain. Namun
karena jarang didapatkan tanah yang subur dan gembur, maka diperlukan penambahan bahan lain
seperti pasir dan pupuk.
Pasir
Pasir diperlukan jika tanah yang digunakan mengandung fraksi liat yang cukup tinggi. Pasir
yang digunakan adalah pasir ladu atau pasir yang bercampur dengan lumpur. Selain murah, pasir ini
juga masih mengandung bahan-bahan mineral endapan.
Pupuk Organik
Pupuk organik bisa menggunakan pupuk kandang, pupuk kompos atau bokashi (hasil fermentasi mikroorganisme). Meskipun menggunakan
pupuk kandang, akan lebih bagus jika pupuk kandang yang telah dihancurkan dan difermentasi sehingga lebih cepat diserap oleh akar tanaman.
Seluruh media tersebut dicampur merata sambil dibersihkan dari benda-benda yang mengganggu, misalnya plastik, batu atau benda lainnya.
Kemudian media pengisi dimasukkan ke dalam karung atau polybag yang telah disiapkan. Pengisian karung atau polybag cukup ¼ bagian saja,
karena selama pertumbuhan tanaman nanti, akan dilakukan penambahan pupuk organik.
2. Membibitkan Jahe
Persiapan bibitan Jahe
Syarat memilih bibit jahe yang baik untuk di tanam :
1. Berasal dari tanaman jahe yang sudah tua yang di tandai tajuk kering sekitar ber umur 9 sampai dengan 10 bulan.
2. Rimpang Jahe sudah melewati masa dormansi (1 -1,5 bulan) masih ssegar, tidak ada tanda bibit penyakit atau pembusukan.
3. Kulit rimpang tidak lecet atau memar akibat galian.
4. Pilih Rimpang yang besar dan subur.
5. Bibit berkualitas adalah bibit yang baik (tidak disimpan terlalu lama),
6. Memenuhi syarat mutu genetik, mutu fisiologik (persentase tumbuh tinggi), dan mutu fisik. Mutu fisik adalah bibit bebas hama dan penyakit.
7. Rimpang untuk dijadikan benih, sebaiknya dipotong-potong dengan cuter steril atau di potes langsung, dengan menyisakan 2 - 3 bakal mata
tunas dengan bobot sekitar 25 - 60 g untuk jahe putih besar, 20 - 40 g untuk jahe putih kecil dan jahe merah.
8. Kebutuhan benih per ha untuk jahe putih besar (panen tua) membutuhkan benih 2 - 3 ton/ha dan 5 ton/ha untuk jahe putih besar panen muda.
Sedangkan jahe merah dan jahe emprit 1 – 1,5 ton.
Pengecambahan
Jika dikhawatirkan adanya serangan jamur, benih bisa direndam terlebih dahulu pada larutan fungisida
(misalnya Dithane M-45) selama 15 menit (untuk budidaya secara konvensional). Jika tidak, benih cukup
direndam atau dibasahi dengan air, kemudian diletakkan pada tampah atau nyiru, dan ditempatkan pada
tempat yang lembab agar berkecambah. Agar kelembaban terjaga, setiap hari benih harus dikontrol dan
dibasahi air jika terlalu kering. Benih akan mulai berkecambah setelah kira-kira 2 minggu.
Penyemaian
Salah satu cara penyemaian adalah menggunakan peti kayu dengan urutan kerja sebagai
berikut:
a. Pada bagian dasar peti kayu diletakkan bakal bibit selapis,
b. Beri abu gosok atau sekam padi, selanjutnya bakal bibit lagi beri abu gosok atau
sekam padi lagi seterusnya sehingga yang paling atas adalah abu gosok atau sekam
padi.
c. Benih tersebut akan mulai tumbuh menjadi tanaman muda dalam waktu sekitar 2-4
minggu. Setelah tumbuh dengan ketinggian sekitar 10 cm (tumbuh 4 – 5 daun), bibit
dapat diambil/dipotong dari rimpangnya dan ditanam pada media polybag yang telah
disiapkan, Ukuran polybag untuk bibit adalah diameter 7 – 10 cm .
d. Rimpang yang tersisa bisa ditanam kembali pada pesemaian agar tumbuh bibit yang
lain. Satu buah rimpang bisa menumbuhkan sekitar 2-4 bibit.
e. Setelah ditanam, tanaman Jahe tersebut jangan langsung ditempatkan pada ruang yang terbuka
dengan sinar matahari langsung, melainkan harus diadaptasikan pada tempat yang memiliki
naungan terlebih dahulu hingga umur 1,5 - 2 bulan.
3. Menanam
Penanaman bibit Jahe pada karung atau polybag harus hati-hati. Buatlah lubang sebesar ukuran
polybag bibit, masukkan bibit Jahe bersama medianya ke dalam lubang tanam, kemudian tutup dengan
media disekitarnya dan padatkan sekedarnya saja. Setelah penanaman, media dan bibit harus disiram
dengan air bersih agar tanaman mendapatkan cukup air dan kontak dengan media.
4. Memelihara
Pemeliharaan tanaman Jahe dalam karung atau polybag cukup mudah. Pemeliharaan meliputi:
penyiraman, penyiangan dan penggemburan media, pemupukan, serta pengendalian hama dan
penyakit.
a. Penyiraman
Penyiraman dilakukan setiap hari, sebaiknya pada sore hari, terutama saat tidak ada
hujan. Beberapa petani menggabungkan budidaya Jahe Merah dengan budidaya ikan dalam
kolam, untuk memudahkan penyiraman dan mengantisipasi kebutuhan air saat musim kemarau.
Selain itu, air kolam diharapkan memberi unsur hara tambahan bagi tanaman. Penyiraman bisa
dihentikan saat tanaman Jahe mulai memasuki fase senecense (mengering) saat tua dan
mendekati panen.
b. Pemangkasan
Perlakuan Pemotongan batang jahe ketika umur 2 bulan, dilakukan untuk memacu pertumbuhan calon
tunas baru serta memperbanyak jumlah batang yang tumbuh seragam dalam 1 pot/polybag.
c. Penyiangan dan penggemburan
Rumput yang tumbuh pada media tanam perlu disiang agar tidak mengganggu pertumbuhan
tanaman, terutama pada sekitar 4 bulan pertama, di mana tanaman Jahe belum begitu rimbun. Beberapa
petani menambahkan mulsa jerami pada media tanam untuk menekan pertumbuhan gulma. Selain
penyiangan, media tanam juga perlu digemburkan dengan menggunakan cetok. Penggemburan
dimaksudkan untuk menyediakan media tumbuh yang baik bagi akar tanaman dan memperbaiki sirkulasi
udara dalam media.
d. Pemupukan dan Pembumbunan
Pemupukan dan pembumbunan dilakukan 2 bulan sekali seiring pertumbuhan tanaman, dengan menambahkan pupuk organik pada media
tanam. Jumlah pupuk yang diberikan tergantung dari besarnya media yang digunakan, kira-kira 1/5 ukuran karung atau polybag yang digunakan.
Pemupukan bisa diberikan 3 kali selama umur tanaman.
Pembumbunan lebih baik bila dilakukan secara berkala yaitu di saat ada pertumbuhan rimpang jahe baru yang muncul di dekat permukaan
tanah. Timbun rimpang yang muncul ke permukaan menggunakan media yang telah disiapkan dengan ketebalan sekitar 5 cm.
e. Pengendalian Hama dan Penyakit
Sebenarnya kasus serangan hama dan penyakit yang serius pada tanaman Jahe jarang terdengar. Namun akan lebih baik jika kita mengetahui
dan mengantisipasi hal tersebut.
Hama yang sering menyerang tanaman Jahe adalah belalang dan ulat yang memakan daun terutama daun muda. Untuk pengendaliannya, kita
bisa menggunakan beberapa cara yaitu:
1. Cara mekanis, dengan memeriksa tanaman dan membunuh hama terutama ulat yang sering memakan daun, atau dengan menggunakan
perangkap serangga berupa plastik berwarna cerah (kuning atau merah) yang dipasang dengan bambu dan diolesi lem.
2. Cara kimiawi, dengan menyemprotkan insektisida yang tepat untuk mengendalikan belalang dan ulat. Insektisida yang dianjurkan adalah
insektisida organik berbahan aktif tembakau atau yang lainnya.
3. Sedangkan penyakit yang mungkin bisa menyerang tanaman Jahe adalah penyakit Layu Bakteri dan Busuk Rimpang yang disebabkan oleh jamur.
Untuk mencegah penyakit tersebut, kesehatan benih dan sanitasi lingkungan pertanamanperlu diperhatikan. Pastikan benih merupakan benih
sehat dan berasal dari induk yang sehat. Lingkungan pertanaman juga perlu dijaga agar bersih dan tidak terlalu lembab atau tergenang air.
Untuk tanaman yang telah terserang penyakit, bisa disemprot dengan bakterisida atau fungisida, jika perlu dimusnahkan agar tidak menular ke
tanaman yang lain.
5. Memanen
Tanaman Jahe bisa dipanen setelah kira-kira 10 bulan. Tanaman yang sudah cukup tua dan siap panen akan melewati masa mengering, di
mana daun dan batangnya berubah menjadi kuning dan mengering. Pemanenan Jahe dari media karung dan polybag cukup mudah karena tidak
perlu menggali dengan susah payah. Kita cukup menggali dengan cetok dan membuka karung atau polybag yang sudah mulai lapuk. Angkat rimpang
Jahe dengan hati-hati agar tidak rusak, bersihkan dari tanah dan kotoran yang menempel, dan jika perlu cuci dengan air bersih. Satu rumpun
tanaman Jahe dalam 1 media tanam karung ukuran 50 kg, bisa menghasilkan rimpang Jahe segar 2 hingga 5 kg.